Bantul– 25 Januari 2019, posko Kelompok KKN UMY 103 mendadak ramai dengan hadirnya seorang profesor asal Kyoto University Jepang, beliau adalah Prof. Masaharu Fujita. Kedatangan Prof. Masaharu Fujita ke Indonesia dalam rangka menghadiri kegiatan IWMSD (International Workshop On Multi Modal Sediment Disaster 2019) yang diselenggarakan di Solo. Setelah menghadiri acara tersebut, Prof. Masaharu Fujita bersama dengan Jazaul Ikhsan, Ph.D selaku DPL KKN 103 mengunjungi posko Kelompok KKN 103 UMY yang berada di Dusun Sendang Sari, Terong, Dlingo, Bantul.

Kunjungan Prof. Masaharu Fujita disambut gembira oleh anggota Kelompok KKN 103 UMY, serta Pak Suyadi selaku kepala Dusun Sendang Sari. Kesempatan langka tersebut lantas dimanfaatkan oleh mahasiswa KKN 103 untuk bertukar pengalaman dengan guru besar Kyoto University tersebut. Anggota KKN 103 UMY kemudian memaparkan program kerja harian yang telah direncanakan, baik program kerja utama maupun program kerja bantu. Program kerja utama adalah peningkatan kapasitas kelompok petani kakao di Dusun Sendang Sari, sedangkan program bantu meliputi pengajaran TPA, pendampingan PAUD, bimbingan belajar SD, hingga pemberdayaan warga setempat.

Anggota kelompok KKN 103 UMY juga menjelaskan kepada Prof. Masaharu Fujita, bahwa KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat berbasis pemberdayaan yang dilaksanaan oleh mahasiswa. KKN juga merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa di Indonesia. Kegiatan KKN dilakukan di pedesaan dengan jangka waktu yang telah ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah sendiri menetapkan program KKN dilakukan selama satu bulan di lapangan, yang diawali dengan kegiatan survei terlebih dahulu.

Setelah mendengarkan penjelasan mengenai program kerja KKN, Prof. Masaharu Fujita menyambut baik terkait adanya program KKN. “Program kerja seperti ini membantu mahasiswa untuk mengerti kehidupan di pedesaan, serta memahami apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini,” kata beliau.

Prof. Masaharu Fujita juga berbagi informasi terkait kondisi perkuliahan di Jepang. Beliau mengungkapkan bahwa di Jepang tidak ada program KKN seperti yang diterapkan di Indonesia. Beliau sangat mendukung adanya program KKN.  “Program semacam ini dapat membuka wawasan mahasiswa yang selama ini terbiasa hidup di perkotaan. Selain itu, kegiatan ini juga akan mengedukasi mahasiswa agar mengerti dan menghargai beratnya profesi yang ada di pedesaan, misalnya sebagai petani,” imbuhnya.

Prof. Masaharu Fujita menambahkan bahwa di era digital seperti saat ini, anak muda seringkali disibukkan dengan dunia mereka sendiri. “Gadget is my life”, dimanapun berada mereka hanya sibuk dengan Gadget mereka masing-masing. Kegiatan KKN seperti ini akan membantu meningkatkan kepekaan dan jiwa sosial mahasiswa. Hal tersebut disebabkan karena selama mengikuti KKN ini mereka diharuskan untuk berbaur bersama teman satu kelompok serta masyarakat sekitar.