Mbah rono, indonesia rawan bencana

Humas,11/08/2015

Indonesia merupakan negara rawan bencana, baik bencana gunung meletus, gempa bumi, maupun tsunami. Meskipun demikian, masih banyak penduduk Indonesia yang masih tinggal di daerah yang rawan bencana. “Hal tersebut karena area rawan bencana di Indonesia justru merupakan daerah yang subur dan memiliki sumber air yang banyak dan pemandangan yang indah, sehingga memiliki daya tarik untuk ditinggali,” hal ini disampaikan oleh Dr. Surono selaku Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dalam Seminar “Caring the World” pada Selasa (11/8) di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam rangka Disaster Management Summer School (DMSS) yang diadakan oleh fakultas Teknik UMY. DMSS ini diikuti oleh mahasiswa dari Indonesia, Thailand, Malaisya dan Taiwan dengan pemateri expert dari Jepang, Taiwan, Perancis dan Indonesia. Informasi selengkapnya mengenai DMSS dapat di akses melalui tautan http://dmss.umy.ac.id/

Karena masih banyaknya masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana maka perlu dilakukan edukasi berkelanjutan terhadap masyarakat tersebut.Sebab datangnya suatu bencana tidak dapat dielakan, namun hal terpenting adalah bagaimana upaya pencegahan atas terjadinya kerusakan yang besar akibat terjadinya bencana, dan juga upaya pengurangan bencana atau mitigasi.

Dalam strategi mitigasi sendiri hal pertama yang harus dilakukan ialah masalah pengetahuan penyelamatan manusia.“Pada kasus bencana, subyek utama dari strategi mitigasi adalah manusianya.Bukan gunung meletus, bukan bencana lainnya.Hal terpenting ialah memberikan pengetahuan seputar penyelamatan manusia kepada masyarakat,” terang pria yang akrab dipanggil Mbah Rono ini.Ia juga menyampaikan bahwa ada strategi yang salah jika banyak orang memberikan donasi untuk daerah yang terkena bencana, akan tetapi korban di daerah bencana tersebut banyak yang sudah tidak bernyawa karena minimnya pengetahuan mengenai penyelamatan nyawa manusia.

Pemerintah Indonesia pun telah memikirkan terkait bencana-bencana yang rawan terjadi di Indonesia. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi didukung oleh pemerintah Indonesia telah melakukan penelitian terhadap daerah-daerah yang rawan bencana. Penelitian ini akan dibuat pemetaan mengenai daerah-daerah rawan bencana, kemudian disosialisasikan kepada masyarakat sekitar. “Khusus kasus gunung meletus dan tanah longsor, karena akan dapat dideteksi lebih awal maka dapat dilakukan early warning system (sistem peringatan dini), sehingga upaya penyelamatan secara dini dapat dilakukan,” Dr. Surono yang juga pernah menduduki posisi staf ahli Menteri ESDM Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup.

Mencermati meletusnya gunung Raung di Jawa Timur pada akhir-akhir ini, selain membahayakan penduduk sekitar, juga berimbas pada pembatalan jadwal penerbangan. Menanggapi hal tersebut, Mbah Rono menyebutkan bahwa asap dari gunung meletus amat berbahaya karena dapat mengakibatkan matinya mesin pesawat. Sehingga sudah seharusnya pihak penerbangan untuk menunda bahkan membatalkan.

“Dalam kasus ini, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) akan memberikan laporan terkait arah angin kemana akan membawa abu dari gunung Ranung, yang lalu dikomunikasikan kepada perusahaan penerbangan dan juga Menteri Transportasi, sehingga dapat langsung diputuskan penerbangan ditutup atau masih dapat berlangsung,” terangnya. Ia juga menambahkan bahwa saat ini Indonesia juga telah bekerja sama dengan satelit Himawari milik Jepang yang dapat mengidentifikasi kemana distribusi abu dari gunung meletus, sehingga pengetahuan arah abu dapat secara dini diketahui. (Deansa)