Prof. Agus Setyo Muntohar S.T.,M.Eng.Sc,Ph.D resmi menjadi Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UMY di Ruang Sidang Gedung Ar. Fachrudin B lt.5 pada Kamis (2/3). Prof. Agus Setyo Muntohar adalah Guru Besar UMY dalam bidang Geoteknik, Ilmu Teknik Sipil.

Prof. Agus S.M, mendapatkan gelar professor dalam penelitian yang dilakukannya sejak tahun 2008, dengan mengambil judul “Mekanika Tanah Tak Jenuh Air untuk Pengurangan Risiko Bencana Tanah Longsor”. Jenis tanah residu yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung berapi. Tanah residu yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor”, jelasnya.

Selain itu, dari hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa tanah yang ada di pulau Jawa ini labil dan tidak begitu stabil, sehingga sering memicu pergerakan tanah dan mengakibatkan longsor. “Potensi tanah longsor yang bisa dikatakan 60 hingga 70 persen terjadi di lereng-lereng Pulau Jawa. Labilnya ini karena tanah di Jawa merupakan tanah residu dan banyak pelapukan. Oleh karena itu, ketika hujan dengan curah yang berkuantitas tinggi sering terjadi bencana longsor. Dilihat dari kondisi ini, sudah menjadi tugas saya sebagai saintis untuk melakukan prediksi terkait tantangan dan analisis tanah longsor,” urai Prof. Agus S.M., lagi.

“Umumnya, gerakan tanah banyak terjadi di lereng yang tersusun oleh tanah residu yang merupakan pelapukan dari batuan dasar berupa breksi vulkanik dan pasir tufaan berumur quarter. Faktor-faktor utama yang menyebabkan kerentanan tanah, yaitu meliputi kondisi geologi, kemiringan lereng dan tata guna lahan. Kondisi batuan tersebut memiliki porositas yang cukup tinggi dan kuat geser yang rendah karena belum mengalami pemadatan.”

Untuk itu, Prof. Agus S.M., menggunakan pendekatan deterministik-probabilistik untuk memprediksi tanah longsor. Dalam rekomendasinya juga menekankan sistem pemantauan dan peringatan berperan untuk mengurangi dampak dari aktivitas longsor. “Jadi sistem monitoring (pemantauan) dan warning (peringatan) tanah longsor yang berperan untuk mengumpulkan informasi. Sistem tersebut bisa digunakan untuk menghindari atau mengurangi dampak dari aktivitas longsor. Jadi dengan kata lain, yang kita buat itu sistem yang bisa memprediksi ketika akan terjadi bencana tanah longsor, dengan cara memperhatikan kemiringan tanah, pengaruh rembesan hujan, dan kuantitas curah hujan. Karena selama ini di Indonesia belum ada sistem prediksi tanah longsor, yang ada baru alat atau warning system ketika sudah terjadi tanah longsor,” ujarnya.

Dengan adanya pengukuhan Guru Besar ini, diharapkan Dr. Gunawan Budiyanto selaku Rektor UMY juga dapat mendorong peningkatan kualitas institusi, “Kenaikan jabatan adalah hal yang diinginkan setiap dosen. Karena itu, UMY diharapkan agar bisa terus meningkatkan kualitasnya dengan menambah penelitian baik dari Kemenristek Dikti maupun Kopertis. Pengukuhan ini juga diharapkan bisa menambah energi UMY untuk mempertahankan akreditasi A yang saat ini telah diraih,”pungkasnya