Pada penandatanganan MoU yang dilakukan Fakultas Teknik UMY dengan Fakultas Teknik Universitas Langlangbuana (UNLA), dilanjutkan dengan acara seminar yang mengambil te,a “Sertifikasi Keahlian untuk meningkatkan Keterserapan Lulusan dan Profesi Insinyur” Jumat (7/4) di ruang Amphiteater lantai 5 gedung KH Ibrahim.  Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Sukamta menjadi pembicara dalam seminar tersebut.

Selaku pembicara dalam seminar bapak Sukamta menyebutkan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh setiap individu dapat dilihat dari sertifikat yang dimilikinya, sertifikasi keahlian diperlukan untuk menentukan pekerjaan di masa depan. Oleh karena itu mahasiswa perlu mempersiapkannya sejak dini dalam mengasah keahlian masing-masing “Jika kita ingin menunjukkan kemampuan kepada orang lain, maka dibuktikan dengan sertifikat. Bila kita hanya berbicara tanpa ada sertifikat, maka orang lain tidak akan percaya pada kita. Selain itu, sudah menjadi tuntutan globalisasi saat ini terdapat 4 penerapan standar. Pertama standar profesional seperti akuntan, dosen, guru dan dokter. Kedua standar produk, ketiga standar sistem, dan keempat standar kinerja,” ujar Dr. Sukamta

Kebutuhan seseorang juga memiliki standar yang disebut standar profesi, hal itu akan mempengaruhi pada jabatan dan juga gaji kerja. Standar profesi berupa sertifikasi akan bisa didapatkan oleh seseorang yang memiliki kompeten. “Kompeten sendiri merupakan hasil dari pengetahuan ditambah keahlian dan juga sikap kerja. Seseorang yang hanya memiliki pengetahuan tanpa ada keahlian dan pengalaman maka ia belum kompeten. Ketiga unsur tersebut harus ada untuk dapat dinamakan kompeten,” Jelasnya

Pentingnya sertifikasi juga menjadi tuntutan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah berjalan sejak akhir 2015. “Para lulusan harus dapat memiliki sertifikasi karena tantangannya banyak terutama sudah diberlakukannya MEA. Lulusan Fakultas Teknik-pun diharapkan setelah memiliki gelar ST (Sarjana Teknik), dapat melanjutkan studi ke jenjang profesi sehingga akan memiliki gelar insinyur (Ir). Karena mulai tahun 2015,   insinyur-insinyur Indonesia tidak hanya bersaing dengan insinyur dalam negeri, karena adanya insinyur dari negara-negara ASEAN yang juga akan masuk sehingga terjadi persaingan yang lebih ketat untuk  mendapatkan pekerjaan di Indonesia,” tutupnya.